PocketMall – Mobile Apps for Shopping Mall / Building

Solusi ini dibuat untuk  Mall, Shopping Mall, Department Store, Town Square atau Office Building yang ingin mempunyai Aplikasi Smartphone/Mobile Apps dan dapat didownload oleh para pengunjungnya. Agar terjalin hubungan erat antara Mall dengan pengunjung dan agar para pengunjung lebih mengenal Merchant / Store / Toko yang ada di Mall tersebut. Selain mudah digunakan aplikasi ini juga memiliki tampilan yang elegan dan memiliki fitur lengkap seperti : Peta Toko, View Toko, Promosi Toko, kupon, dll..

 PocketMall_Suma

PocketMall ini adalah sebuah terobosan baru aplikasi multi platform yang kami develop, sebuah solusi marketing terbaik bagi bisnis Mall di era Smartphone saat ini, aplikasi ini akan tampil dan bisa disearch oleh pengguna  Apple/iPhone, Android, dan Blackberry. Aplikasi ini bisa langsung didownload free (gratis) oleh user/pengunjung melalui Apps Store (Apple-iPhone), Google Playstore (Android) dan Blacberry Applications World (Blackberry) dan tentunya sudah ada agreement dengan Apps Market tersebut.

Kami yakin Mall yg menggunakan aplikasi ini akan berbeda dengan mall yang lain dan mempunyai aplikasi terupdate saat ini.

Aplikasi PocketMall ini nantinya mempunyai tampilan yang cukup elegan dan fitur yang lengkap antara lain :

  • Store Locator :  Peta lokasi toko-toko per lantai.
  • View :  Photo Mall/Toko secara 360⁰ atau 720⁰
  • Cinema :  View Iklan-iklan / poster Film terbaru Cinema
  • Promotions & Event :  Promosi Toko terbaru, Events, produk dll
  • Seat Reservations :  Reservasi tempat utk Dinner, dll (optional)
  • Coupon Management :  Coupon Toko-toko
  • Membership :  Database Pelanggan / Pengunjung
  • Bonus Point :  Beberapa bonus app.
  • Food Gallery :  View restaurant-restaurant.
  • Customer Feedback :  Masukan dan kritik dari Pelanggan.
  • Real time Survey Report :  Survey laporan yang update dari pelanggan.
  • Social Network Share :  Posting bisa dibagikan kedalam Facebook, Twitter dll..
  • Promotion Notification :  Memberikan Notifikasi secara langsung ke Gadget Pelanggan
  • Shop App Portal :  Tombol Aplikasi langsung ke toko-toko.
  • Backend Management Platform :  Pengoperasian yang mudah oleh Admin.
  • Dashboard :  Pengoperasian yang Friendly User.
  • Statistical Report :  Laporan Statistik yang bisa digunakan Manajemen Gedung.
  • PC Tablet Compatible :  Owner bisa melihat langsung Stats melalui tablet/Gadget mereka.

Pocketmall_Apps

Untuk lebih jelasnya mengenai PocketMall Solution, para management Mall/Shopping Mall, Department Store, Town Square atau Office Building dapat menghubungi team marketing kami. Terima kasih.

mPublish Mobile Apps

Solusi untuk perusahaan atau korporasi yang ingin menerbitkan publikasi  mereka, seperti buletin, katalog produk atau laporan tahunan dll .. menjadi sebuah aplikasi mobile. Sehingga setiap perusahaan bisa menjadi publisher mobile untuk mengeluarkan publikasi mereka kepada pelanggan dan membangun hubungan yang erat dengan mereka.

Misalnya : Newsletter bulanan bagi pelanggan Banking.

Aplikasi customize ini mempunyai tampilan yang elegan dan dapat memuat artikel dan foto yang banyak. Aplikasi ini akan tampil dan bisa disearch oleh pengguna  Apple/iPhone, Android, dan Blackberry. Aplikasi ini bisa langsung didownload oleh user melalui Apps Store (Apple-iPhone), Google Playstore (Android) dan Blacberry Applications World (Blackberry).

Bagi perusahaan dan korporasi yang ingin mempunyai aplikasi seperti ini dapat menghubungi team marketing kami.

PocketShop – Mobile Apps for Your Business

Di era Smartphone saat ini, aplikasi PocketShop sangat dibutuhkan bagi para penjual produk secara online yang fitur-fiturnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan bisnis itu sendiri. Sehingga dapat meningkatkan penjualan secara otomatis. Dan konsumen dapat dengan mudah mengakses setiap produk yang dibutuhkan secara cepat, efisien dan tentu saja aman.

PocketShop adalah sebuah terobosan baru aplikasi multiplatform yang kami develop, sebuah solusi terbaik bagi bisnis apapun agar bisa mempunyai mobile Apps mereka sendiri, Aplikasi ini bisa dibuatkan untuk BISNIS :

  • F&B/Restaurant
  • Retail Shops
  • Bakery
  • Salon
  • Boutique
  • Professional seperti Kantor Pengacara, Kantor Akuntan Publik etc..

Aplikasi PocketShop akan tampil dan bisa disearch oleh pengguna  Apple/iPhone, Android, dan Blackberry. Aplikasi ini bisa langsung didownload (gratis) oleh user atau si pembeli melalui Apps Store (Apple-iPhone), Google Playstore (Android) dan Blacberry Applications World (Blackberry) dan tentunya sudah ada agreement dengan OS (operating System tersebut).

Sudah pasti Bisnis anda akan exclusive berada diatas, berbeda dengan yang lain dan mempunyai aplikasi Smartphone terupdate saat ini.

Aplikasi PocketShop ini nantinya mempunyai tampilan yang cukup elegan dan fitur yang lengkap sehingga toko anda bisa mempromosikan service/produk terbaru/ terbaik, category Produk terbaik (paling laku), VIP, News, Gallery, Photo para pelanggan, Rekomendasi, Survey Chart, Order, status pengiriman barang yg diorder (jika delivery), bukti pembelian/Order (jika delivery), history pembelian oleh user (jika delivery), membership/non member user, peta lokasi Outlets, dll..

Sebagai gambaran, berikut ini beberapa rekan Bisnis/Restaurant yang sudah membuat aplikasi mereka dengan kami  PT. Suma / EverMobileSoft :
google_play
Contoh Pocket Resto di Google PlayStore :
PocketShop
Video Pocket Resto di Youtube :

Pada dasarnya PocketShop ini bisa di customize utk Perusahaan bergerak dibidang F&B, Retail dll. Pada kesempatan kali ini saya ingin memberikan gambaran lebih lengkap mengenai Pocket Shop versi terbaru Versi 1.5 kami. Dan penjelasan sedikit mengapa bisnis apapun cocok menggunakan aplikasi ini.

Mengapa harus Mobile Apps PocketShop ?

  • Mobile apps Pocket Shop dirancang agar Toko dan Customer dapat menjalin hubungan erat melalui push mail, krn dengan push mail Toko dapat melakukan promosi/broadcast kapanpun Toko ada promosi, langsung terkirim dalam hitungan detik ke smartphone para pelanggan (Blackberry, Android dan iPad/iPhone 3,4,5)  pastinya dengan tanda kedip lampu LED di Blackberry, android atau iPad/iPhone 3,4,5.
  • FREE download app ini untuk para pelanggan anda. Di Appsstore, Google Playstore dan Blackberry Application World. Atau Qr Code untuk iklan anda dimedia cetak atau brosur.
  • Tampilan yg elegan, untuk kenyamanan pelanggan dapat mereview semua produk-produk Store anda. Untuk Restaurant, Hotel, Boutique, atau Salon dapat menggunakan fitur 3D utk menampilkan view Photo lokasi secara real 360⁰ atau 720⁰.
  • Fitur Coupon untuk customer, suatu yang dinantikan para pelanggan untuk menambah gairah para pelanggan dalam membeli produk kita.
  • Setiap customer anda tidak akan melupakan toko anda karena data mereka sudah terrekam di database dan itu adalah kunci untuk berhubungan dengan mereka kembali (Push Mail).
  • Fitur Survey and Customer Feedback, fitur yg bisa dipakai untuk analysis team management mengenai kepuasan pelanggan berguna juga dalam membuat keputusan utk produk-produk yg mudah atau susah terjual.
  • Shop Location Search, Pelanggan dapat mengetahui Lokasi terdekat Toko anda.
  • Low Cost promotion untuk Toko, dan lain-lain Marketing Widget yg bisa digunakan Toko untuk membangun promosi yang menarik ke para pelanggan.
  • Owner/Manager dapat melihat Report mobile apps ini, tidak hanya melalui PC tapi juga melalui tablet.
  •  Backend System yang mudah digunakan bagi admin anda untuk mengetahui order atau feedback dari para pelanggan.

Mengapa Website sudah mulai ditinggalkan ?

  • Diera Technology Smartphone sekarang ini, para pelanggan menginginkan kenyamanan dalam melakukan transaksi, sudah pasti Smartphone (Blackberry, Android, iPad/iPhone) ada digenggaman tangan mereka, lalu untuk apa membuka Website lewat PC, notebook, dll ?
  • Kadang memakan waktu utk mengarahkan cursor, mengetik di kolom yg benar ketika mau melakukan transaksi melalui browser di Handphone/Smartphone L.
  • Bersifat pasif, website tidak akan mengirimkan notifikasi promosi yg anda inginkan dari produk kesukaan anda (kecuali anda adalah member website tersebut dan mendaftarkan alamat email anda).
  • Harus membuka PC dan internet koneksi jika ingin tahu produk atau berita terbaru website produk kesukaan.
  • Customer anda dapat browsing atau ordering produk anda, kapanpun dan dimana pun dengan melalui Mobile Apps di smartphone mereka.

Untuk lebih jelasnya mengenai PocketShop Solutions, anda bisa menghubungi team marketing kami. Terima kasih.

 

Hengky Setiawan Pemilik Telesindo Si Raja Pulsa

“Berawal dari berjualan ponsel bekas di kampusnya, kini Hengky layak dijuluki “Raja Vocer Ponsel” dengan omset Rp 4,5 triliun/tahun, 30 ribu jaringan reseller, dan 2.000 karyawan. Bagaimana rahasia suksesnya?”

 


Jika melintas di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat, tepatnya di depan Plaza Gajah Mada, Anda akan melihat pemandangan berbeda. Beberapa toko perlengkapan kendaraan bermotor di ujung Jalan Sukarjo Wiryopranoto (dulu Sawah Besar) itu sudah tiada, dan kini disulap menjadi gedung mewah empat lantai yang berdiri kokoh di atas lahan seluas 1.000 m2. Di atas gedung baru yang masih dalam tahap finishing itu, terpampang sign board bertuliskan “Telesindo Shop” berwarna merah menyala.


Hengky Setiawan adalah pemilik gedung Telesindo Shop itu. Ia berniat meluaskan bangunan Telesindo Shop yang berfungsi sebagai kantor dan gerai penjualan voucher telepon seluler (ponsel). Makanya, sekarang ia sudah berancang-ancang membeli sejumlah toko dan rumah yang ada di kiri, kanan dan belakang gedungnya. “Kelak di sini akan menjadi kantor pusat Telesindo yang memiliki 30 ribu jaringan subdealer dan reseller dari Sabang sampai Merauke,” kata Presdir PT Setia Utama Telesindo (Telesindo) itu. Tidak main-main, sebagai dealer nasional yang mengageni pemasaran voucher pulsa isi ulang produk operator seluler Telkomsel, Telkom Flexi dan Excelcomindo Pratama (XL), Telesindo berhasil mencatatkan omset fantastis, yaitu Rp 4,5 triliun lebih per tahun. Rincian kontribusi penjualannya: voucher Telkomsel Rp 3,5 triliun, XL Rp 1 triliun, dan Telkom Flexi Rp 100-200 miliar. Margin bisnisnya cukup tipis, berkisar 1%-3,5%.


Tentu, ada alasan mengapa Hengky hanya menjadi dealer voucher produk ketiga operator itu. Menurut pria berpostur tinggi besar dan berjenggot panjang itu, setelah bermitra dengan Telkomsel, pihaknya hanya boleh menggandeng satu operator lagi. Sementara, Telkom Flexi diizinkan masuk lantaran masih segrup dengan Telkomsel.


Sembilan belas tahun lalu, tentu, bisnis Hengky belum sehebat sekarang. Maklumlah, waktu itu ia masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanagara, Jakarta. Ya, pada 1989 itu ia baru menjajal berdagang ponsel second merek Nokia jenis NMT yang seukuran batu bata. Waktu itu, harga yang bekas saja Rp 5 jutaan. “Awalnya, saya iseng menawarkan ke teman-teman, ternyata ada yang berminat beli seharga Rp 7 juta. Wah, untung Rp 2 juta ini saya gunakan untuk modal,” kata Hengky girang. Kemudian, ia mencari dua ponsel bekas lagi. Begitu seterusnya, sehingga usahanya terus membesar. Sebulan, ia mampu menjual lima ponsel bekas dengan keuntungan Rp 2 juta/ponsel atau total Rp 10 juta. Untuk ukuran mahasiswa kala itu, penghasilan Rp 10 juta membuat kawan-kawannya berdecak kagum. Ia pun bisa sedikit berfoya-foya. Dan untuk mendapatkan stok ponsel bekas, ia memburunya melalui iklan di koran karena waktu itu pusat ponsel ITC Roxy Mas belum ada.

 


Tahun 1990, seiring dengan perkembangan operator ponsel Advanced Mobile Phone System (AMPS) yang dimotori PT Komselindo, Hengky jeli melihat peluang bisnis baru. “Dulu para dealer ponsel mesti pakai sistem purchase order (PO) ketika membeli produk handphone Motorola. Satu PO harganya Rp 15 juta dan barang baru dikirim 1-2 bulan berikutnya,” ujar pria kelahiran 7 Juli 1969 itu. Tak mau melewatkan kesempatan emas, ia pun ikut-ikutan berjualan PO. Nah, hanya dari jual-beli kertas PO itu saja, ia berhasil mengutip keuntungan Rp 1 juta per lembar PO. Hebatnya, kala itu ia bisa membeli satu buku yang berisi 25 lembar PO, sehingga mengeruk untung Rp 25 juta sebulan. Kemampuan jualan Hengky tidak diragukan lagi. Buktinya, di bulan-bulan berikutnya ia berhasil menjual tiga buku PO dengan keuntungan Rp 75 juta sebulan. Di puncak prestasinya itu, kebetulan ada dealer yang menjual izin dealership-nya. Langsung saja Hengky mencaploknya karena hampir dua tahun hanya berstatus calo ponsel.


Prestasi Hengky itu ternyata menarik perhatian Star Express, distributor ponsel Motorola. Ia disarankan orang Star Express membentuk badan usaha (perseroan terbatas). Tidak sukar mewujudkannya lantaran Hengky telah mengantongi modal sendiri. Hingga akhirnya berdirilah PT Setia Utama pada 1992 dengan investasi awal Rp 100 juta. Setelah berstatus dealer, rupanya tantangan yang dihadapinya cukup berat. Periode 1992-93 pemasaran ponsel AMPS secara nasional stagnan. Ada produk yang tidak laku di pasar, namanya bag phone (telepon yang ditenteng atau portable phone) seharga Rp 10 juta/unit. Ketika dealer lain angkat tangan, Hengky justru mampu menjual ratusan unit bag phone. Orang Star Express senang melihatnya, sehingga ia diberi harga diskon spesial.


Perkembangan industri telekomunikasi memang dinamis. Di akhir 1994 Indonesia memasuki era Global System for Mobile Communications (GSM). PT Satelit Palapa Indonesia (Satelindo) milik Grup Bimantara pertama kali masuk. Saat itu Satelindo butuh handset Motorola yang didistributori Star Express untuk program bundling dengan nomor GSM-nya. Ketika dealer lain ogah memasarkan produk GSM karena dianggap masih baru dan pasarnya belum terbentuk, Hengky tidak terbawa arus. “Untungnya, saya sudah resmi menjadi dealer Star Express, sehingga boleh ikut berjualan GSM,” ucap eksekutif yang hobi mengendarai motor besar dan motor boat itu. Bagi Hengky, tak soal jika nanti skala penjualan produk GSM itu masih kecil; yang penting, start nama dulu agar Setia Utama lebih banyak dikenal pelaku bisnis telekomunikasi.


Setelah Satelindo memelopori industri GSM, tahun 1995 PT Telekomunikasi Seluler Indonesia (Telkomsel) mulai masuk. Dengan intuisi bisnis tajam, ia pun melamar menjadi authorized outlet (dealer kecil), bukan authorized dealer. Saat itu ia membuka toko perdana yang menjual handset dan kartu ponsel di Jalan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Ia meminjam ruko milik orang tuanya di lantai 2, karena lantai 1 dipakai ayahnya untuk ruang pajang mobil Mitsubishi.


Ketika Hengky merangkap jadi dealer Satelindo dan Telkomsel, prahara mulai datang. Perjalanan bisnisnya yang selama ini mulus tersandung batu kebangkrutan, sehingga memaksanya memulai dari nol lagi. Musibah itu terjadi pada 1996-97 ketika Satelindo mengeluarkan program Satelindo Direct. Para dealer dijanjikan diberi komisi, tapi lama tak kunjung turun. Tak pelak, dealer kehabisan napas karena menyubsidi penjualan handset saja. Akibatnya, banyak dealer yang tutup dan rugi, termasuk Hengky. Sejak saat itu ia memutuskan hubungan bisnis dengan Satelindo. “Saya anggap untung saya dari Star Express sudah habis untuk Satelindo,” tutur anak sulung dari empat bersaudara pasangan Herman Setiawan-Lanny itu dengan nada mengeluh.


Tanpa diduga, kekecewaan Hengky setelah cabut dari Satelindo terobati manakala tahun 1997 XL ikut meramaikan industri teknologi GSM. Lalu, masuklah ia sebagai dealer penjualan voucher XL.


Hengky makin agresif saja berbisnis voucher setelah menjadi sarjana ekonomi. Apalagi, pada 1999-2001 penjualan kartu ponsel mengalami booming. Penjualan voucher Telkomsel paling mencolok di antara tiga operator di pasar. Ia mengaku meraup untung besar waktu harga voucher masih gila-gilaan di masa itu. Bayangkan saja, harga voucher senilai Rp 250 ribu bisa laku Rp 700 ribu.


Bisnis Hengky kembali menggeliat. Setelah meraup untung besar dari booming voucher, ia membuka gerai baru di Jalan Radio Dalam dan Megamal Pluit dengan nama Telesindo. “Adik saya yang memberi nama itu meski dulu belum ada SIUPP-nya. Akhirnya, belakangan diganti menjadi Telesindo Shop,” ungkap ayah James Setiawan (8 tahun), Justin Setiawan (6 tahun) dan Jerry Setiawan (2 tahun) itu. Sampai tahun 2000, Telesindo Shop beranak-pinak menjadi 10 gerai, antara lain di Blok M dan Citraland. Meski sudah menyandang status bergengsi sebagai dealer nasional, Henky tetap melayani sendiri pembeli di gerai Citraland. Maklumlah, ia mengaku waktu itu otak bisnisnya masih bergaya trading.


Barulah setelah Singapore Telecom (SingTel) masuk ke Telkomsel tahun 2002, mulai banyak terjadi perubahan yang memengaruhi pola pikir Hengky sebagai entrepreneur. Singtel mentransfer pengetahuan dan mengubah paradigma dealer atau distributor. Distributor diwajibkan membuka toko sebanyak-banyaknya dan harus spreading (menyebar). Distributor yang tidak sanggup dipersilakan mundur. Di sini seperti terjadi seleksi alam, sehingga hanya tersisa beberapa dealer. “Karena saya selalu melihat peluang, fleksibel dan tidak mau bertentangan dengan operator seluler, saya tetap bertahan sampai kini,” Hengky menandaskan. Ia bercerita, waktu itu disuruh SingTel membuka 30 gerai. Jelas, perintah itu memberatkannya. Namun, karena produk Telkomsel diminati pasar, overhead cost itu bisa tertutupi. Bahkan, Hengky mampu membuka gerai melebihi target: 40. “Boleh dibilang, untuk ukuran Jabotabek saat itu saya adalah rajanya dengan jumlah toko terbanyak,” katanya tandas.


Tak puas dengan “menyiksa” dealer agar membuka 30 gerai, pada 2003-04 SingTel kembali “memaksa” para dealer membuka jaringan toko di semua kota besar di Indonesia. Mau tak mau, Hengky pun harus menuruti kemauan operator. Bisa ditebak, ia pun gencar membuka toko, tidak hanya di Jabotabek, tapi juga menembus kota-kota di Kalimantan, Bali, dan pulau lain. Ia punya siasat: tahap awal harus buka di beberapa kota besar dulu supaya aman, sehingga genap 250 gerai yang ia miliki pada 2005.


Daya tahan Hengky terus diuji. SingTel kembali “berulah”. Setelah sukses dengan jaringan di seluruh kota besar di Indonesia, SingTel menyuruh para dealer membuka gerai di tingkat kabupaten. Lagi-lagi Henky memasang strategi: hanya membuka toko di kabupaten besar. Maka, gerainya merajalela sampai ke kabupaten-kabupaten di Sumatera (Utara dan Selatan), Sulawesi, Papua, serta Jawa (Barat dan Timur). Tahun 2006-07 total ada 400 gerai Telesindo Shop di seluruh Indonesia. Itu belum termasuk jaringan 300 subdealer — satu subdealer membawahkan 100 toko kecil (reseller). Jadi, total Telesindo Shop membawahkan 30 ribu reseller dan 400 gerai milik sendiri.


Untuk membuka sebuah gerai dibutuhkan dana investasi Rp 100-300 juta, dan breakeven point tiap gerai rata-rata diraih dalam dua tahun. Sumber pembiayaan ekspansi Henky ini adalah perbankan. Adapun jumlah karyawannya mencapai 2.000 orang di seluruh Nusantara: 70% pegawai sendiri, sedangkan 30% karyawan kontrak untuk tenaga sales promotion girl.


Dalam menjalin komunikasi dengan jaringan 400 gerai, 300 subdealer dan 30 ribu reseller, Hengky memanfaatkan teknologi SMS, ponsel dan sistem computerized yang sudah online di seluruh Indonesia. Ia tidak perlu rutin terjun langsung ke lapangan menyambangi puluhan ribu gerainya. Di tiap kota ia memiliki manajer cabang. Para manajer cabang ini yang melaporkan kinerjanya kepada 12 general manager (GM) di Jakarta. Nah, sebagai bos, Hengky tinggal memanggil para GM untuk dimintai laporan bulanan.


Pola kerja sama Telesindo Shop dengan para subdealer dan reseller diakui Hengky bersifat win-win solution. “Saya selalu memberikan apa yang mereka butuhkan dan harga yang fair,” ungkapnya. Jika harga naik, ia tidak mendadak menaikkan dengan drastis, tapi cenderung landai. Dengan demikian, subdealer dan reseller menjadi nyaman. Apalagi, ia juga memberikan reward bagi mereka yang berprestasi, seperti jalan-jalan ke Bali, ke luar negeri, dan barang elektronik. Konsekuensinya, para subdealer ditargetkan menjual di atas Rp 250 juta/minggu dan reseller harus menjual di atas 50 piece kartu voucher apa saja tiap hari. Sejauh ini kerja sama subdealer/reseller dengan Telesindo bisa dikatakan langgeng. Kuncinya, menurut Hengky, terpenuhinya target penjualan, pemberian reward kepada mitra, dan hubungan yang dijalin bersifat kekeluargaan.


Anton Hidayat termasuk subdealer Telesindo Shop yang loyal. Ia bekerja sama dengan Hengky sejak 2003. “Waktu itu saya mendapat informasi dari teman, lalu saya melamar ke Telesindo. Syukurlah, diterima, karena toko kami dinilai memenuhi syarat,” ujar pemilik gerai Christ Seluler itu. Lokasi gerai Anton di ruko dua lantai seluas 4×4 m2 di kawasan Taman Palem, Jakarta Barat.


Sejumlah agenda bisnis telah disiapkan Hengky untuk mencapai ambisinya sebagai dealer voucher ponsel nomor wahid di Indonesia. Pertama, ia menargetkan tahun ini membuka 300 gerai sendiri, sehingga total menjadi 700 gerai. Bila selama ini pihaknya berkutat di inner city (kota-kota besar) supaya aman, “Ke depan dengan persaingan kian ketat, kami siasati strategi akan penetrasi ke outer city atau kota-kota pinggiran, seperti Serang, Cikampek, Pelabuhan Ratu untuk wilayah Banten dan Jawa Barat,” kata Hengky yang mengaku kunci sukses bisnisnya terletak pada tiga hal: berkomitmen, fokus dan fleksibel. Kedua, terus merambah bidang properti yang bersinergi dengan bisnis intinya. Sejak 2007 Hengky mulai memborong banyak space atau satu lantai mal, selanjutnya dijual lagi secara ritel kepada relasinya untuk berdagang ponsel dan voucher. Misalnya, di Bandung Electronic Centre, Sentra Grosir Cikarang, Mal Ciledug, Mal Cimahi dan Season City. “Space di Cikarang itu telah dihuni 200 toko ponsel dan voucher. Sedangkan yang di Bandung cuma disewakan saja ke tenant lain,” tuturnya. Ketiga, akan segera go public untuk mencari modal ekspansi lebih besar lagi.


Di mata operator, Telesindo adalah dealer nasional yang ahli di bidangnya. “Telesindo itu network-nya luas, jam terbangnya tinggi dan sudah teruji,” ujar Asni Juita, VP Pengembangan Channel & Operasi XL, memuji. Bagi XL, Telesindo adalah mitra strategisnya dengan bentuk kerja sama saling membutuhkan. Telesindo pernah tercatat sebagai dealer terbaik di seluruh region XL pada 2007.


Sumber: http://swa.co.id

Telesindo PocketShop – by SUMA

Telesindo PocketShop

A comfortable and completeness of service, without the people who are experts in the same field does not provide a solution to consumers. That’s why Tiphone frontliner very selective about the employees who deal directly with consumers. Not just a smile is needed, but also an understanding of all the things faced by consumers. Both issues that are trivially related to cellular technology. They are very co-operative to be consulted open when consumers complained all the problems. Later, when you go home, be a relief and satisfaction guarantee.

 

TelesindoPocketShop

Download Telesindo Pocketshop application instantly to your Android phone or tablet. :

download_button

 

 

PocketShop – by SUMA

Solution for retail industry that every shop or corporation can have their mobile applications at an unbelievable low price.
PocketShop available for Restaurants, Retail Shops, Salon, Spa & Massage, Professional such as lawyer, accounting firm etc..

PocketShop

Download free example of Pocketshop app instantly to your Android phone or tablet. :

download_button

 

All the corporate services that available from SUMA

SUMA & SAM provides “Native Mobile Application” Development services : iPhone, Android and Blackberry Native Apps and have expert team of Mobile Application Developer which helps you to transform your offline business to the world of mobility. Our Mobile app developers has deep understanding of mobile technology, tools and has expertise in integrating it using different programming languages and systems.

Pocketshop :
Solution for retail industry that every shop or corporation can have their mobile applications at an unbelievable low price.
Available for : Restaurants, Retail Shops, Boutique, Salon, Spa & Massage, Professional such as lawyer, accounting firm etc..

mSchool :
Solution for education that bridge between school and the parents for information of their kids in school.
Available for : School and education institute.

mPublish :
Solution for enterprise or corporation is issue their publication, newsletter, product catalogues or annual report etc…into a mobile app. So every corporation can be a mobile publisher to issue their publication to the customers and establish a link with them. E.g. Monthly newsletter for the Banking customer.
Available for : All the enterprise and corporation.

Mobile Signature :
Operator user “SIGNATURE” pop up when Callers Calls, the ways of expressing self, and also a solution for the next generation Mobile Ads Channel for Operator.
Available for : Operator user, All the enterprise and corporation

WhereRU (Enterprise) :
Solution for corporation to keep track on their staff and employee.
Available for : All the enterprise and corporation.

WhereRU (Family Care) :
Solution for location based services being applied to family safety and care. And can be combined with mSchool to formulate a safety solution for kids.
Available for : All the family and personal usage.

 

For Further Information :
PT. Setia Utama Media Aplikasi (SUMA)
PT. SUMA App Market (SAM)
a Subsidiary Company of Telesindo – Tiphone Mobile Indonesia, Tbk

https://www.youtube.com/user/sumaapplication
http://www.appmarket.co.id
http://www.tiphone.co.id
http://www.tiphonemobile.com
http://www.telesindoshop.com

Toping Up

Hengky Setiawan has built Telesindo into the top seller of prepaid phone cards. Now he’s preparing for the next stage of growth as a soon-to-be listed company.

Hengky Setiawan.  © Ahmad Zamroni/Forbes Indonesia

Hengky Setiawan’s face smiles down from billboards promoting his Telesindo company and its signature TiPhone in more than 200 billboards across Indonesia. Print ads also use his image. “At first, the decision to use myself as a model was merely to save money but then I got used to it,” says Hengky, the founder and owner of Telesindo.

Hengky’s unabashed promotion of himself and his company is part of his success in building Telesindo group from a single, two-square meter stall selling prepaid phone cards in 1992 into a diversified group focused on cell phones with an expected Rp 6 trillion-plus in revenues this year and profits of Rp 200 billion. By far the largest part of the group is the stores selling prepaid cards under PT Telesindo Shop and PT Excel Utama Indonesia, which produce 90% of revenues.

These shops are the biggest distributor of prepaid phone cards in Indonesia, and the largest seller for market leader PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). “We have more than a 10% market share in prepaid cards for Telkomsel. The opportunity for us is huge,” says Hengky, 42. He also sells cards from Indosat and XL Axiata, a business that is managed by his younger brother Ferry Setiawan.

The two other businesses that make up the remaining 10% are the cellular phone distributor PT TiPhone Mobile Indonesia, selling major brands such Samsung, Apple and BlackBerry, and his own brand TiPhone. Then there’s the content developer PT Setia Utama Media Aplikasi.

While Telesindo’s growth has been rapid so far, Hengky is aiming to go to the next stage with a number of major initiatives. First off, he is planning to double the number of retail shops to 1,000 and add 50% more resellers, to 300,000, by next year. To boost sales of the TiPhone, he aims to grow the number of service centers to 142 from today’s 50.

All this expansion requires funds, and the second major step underway is a public listing to raise the money later this year. The first to list will be Tiphone Mobile Indonesia. He plans to sell 40% of this firm (now owned 100% by himself and family members) for a reported Rp 900 billion, valuing the company at Rp 2.3 trillion. The valuation seems conservative—a similar company in the same industry is the listed PT Trikomsel Oke, which last year had similar revenues of Rp 5.5 trillion and Rp 204 billion profits. It sells at about 14 times earnings, or a market capitalization of Rp 3.4 trillion, as of late September. Hengky has selected Sinarmas Sekuritas as the lead underwriter.

In order to expand, Hengky is also looking to move beyond cell phones. He sells an e-book reader, named James, after his first son, and a “TiPad” tablet named Justin, after his second son. He also has a suite of services and an Internet service. All come with the prefix of “T,” such as T-Internet Service, T-Mail and T-Messenger, available in various packages starting as low as Rp 5,000 a day. “We can not sell the TiPhone as a standalone product. It has to be a package of voice and data services since 70% of people now use their cell phone to access data and Internet,” says Chief Operation Officer Telesindo Lily Salim. As the Indonesian market reaches saturation point, all telecom firms will look to sell more value-added services over their phones rather than rely on new phone sales for growth. He also wants to morph his Telesindo shops from selling primarily phones into one selling a wide range of electronic gear.

Hengky Setiawan. © Ahmad Zamroni/Forbes Indonesia

Hengky has long had a knack for technology and business. His father had a business selling cars out of small showroom in Pontianak (Hengky also has a side business selling cars, mostly top-end brands such as Ferrari or Mercedes-Benz). While in college, young Hengky worked as a Mitsubishi spare parts courier for Istana Motor in Jakarta. He got his start in phones in 1989. He borrowed Rp 5 million from his boss at Istana Motor to buy a used Motorola mobile phone. To make it look newer, he repainted the outside of the phone, taking out a newspaper ad and finally selling it for Rp 6.5 million. With the profits on the sale, he became hooked, buying and selling mostly used phones through newspaper ads.

When GSM phones were first introduced in 1994, PT Satelit Palapa Indonesia (Satelindo) was the first operator to adopt the technology. Hengky took part by acting as a dealer for Satelindo. Later the operator, which was linked to the family of then President Suharto, failed to pay some commission on sales. That lack of funds pushed him to declare bankcruptcy. Fortunately, Hengky was able to switch to being a dealer for Telkomsel, which entered the cell phone market in 1995 (Satelindo was eventually absorbed into PT Indosat). After Singapore Telecom acquired a 35% stake in Telkomsel in 2002 he gained a reputation as a doer—someone able to meet the aggressive growth targets set by SingTel.

As competition rose in the market, operators started to ask their dealers for exclusivity agreements. Telesindo became a victim when Indosat ended its contract in 2004. Ferry Setiawan took over the Telesindo business with XL Axiata, and developed his own company, PT Excel Utama Indonesia.Ferry was able to develop the company into the largest prepaid card distributor for the second largest operator in the country. “Back then, I think it was a gamble for Hengky to choose which operator to continue the business with. But he’s a good gambler and he chose the right operator. Telkomsel now is the market leader,” says Iwan Setiawan, Chief Operating Officer at MarkPlus Consulting.

Even though dealers can pocket at least Rp 1,000 for every prepaid card they sell, the dealer does better on selling new sim cards. Therefore, Telesindo pushes its 2,000 salesmen to make as much profit as possible for the company through selling new sim cards. On the prepaid business, Hengky says he could book up to an 8% gross profit since the prepaid business in pretty stable, increasing 15% per annum. “Its just like gasoline, every driver needs it,” says Hengky. To keep his market share high, he often acquires smaller dealers to expand his own network.

The next evolution came in 2009, when Chinese-made phones started to flood the market with their low prices but reasonably good quality. Hengky took advantage of the availability of these phones to make his own branded Chinese-made phone, the TiPhone. The TiPhone hit a sweet spot in the market. Many wanted a stylish, feature-packed phone even if they couldn’t afford a top branded phone such as a BlackBerry. Thus Hengky came along and offered them various TiPhones, packed with features but priced to sell. “The best selling TiPhones are within the price range of Rp 250,000 to 750,000 per unit. The cheaper the price, the more we can sell. The market is just like a pyramid, the mass is at the bottom,” says Hengky. Now he sells 100,000 TiPhones per month.

With the company growing larger, Hengky has had to learn to delegate, and has been bringing more professionals to help him manage the group. “He is no longer a one man show. It is good for someone at his age. Not to mention that his four sons are still too small to join the company [the oldest is 11 years],” says Alie Cendrawan, who is also the chairman of the cell phone importers and businessmen association, and often done business with Telesindo.

He is also investing in the staff. During the year, Telesindo conducts training meetings for 200 managers from across the country every quarter, and another training session for all resellers twice a year. The meetings are meant to provide networking opportunities, promote team spirit and explain company strategy and targets. He tries to inspire them with talks given by notable motivational speakers such as James Gwee or Forbes Indonesia columnist Hermawan Kartajaya. The meetings also feature award ceremonies where top performers receive recognition and rewards. On the flip side, Telesindo will also weed out the worst performers in the group, thus ensuring a high productivity and growth for the group as a whole.

One irony of Hengky’s career is his use of cell phones. Despite selling sophisticated smartphones, he admits that most of the time he only has time to use his own phones (two of them) for calls and SMS.

BRAND BUILDER

To sell its cards, Hengky’s Telesindo brand needs widespread recognition in a mass market, and thus any publicity is good publicity, whether paid or from outlets such as press coverage or an event. Hengky is proud of his various awards, such a recent “lifetime achievement” award that recognizes his work but he also is aware that such awards can also help build recognition and value of his Telesindo brand. Even real estate can help brand. Hengky already owns a four-story facing busy Jalan Hayam Wuruk, painted bright red, complete with a luxury car showroom on the ground floor. Across the street, he will make Telesindo even more visible, with a new 16-story building going up soon, dubbed the Telesindo Tower.

LARGER THAN LIFE

Hengky Setiawan. © Ahmad Zamroni/Forbes Indonesia

With his success, Hengky likes to live large. He recently purchased a corner lot home—complete with an elevator—in the exclusive Pantai Mutiara gated community with a view of the newly constructed Regatta complex. The four-story house has been expanded and renovated from its original design. He can swim in his pool or soak in a Jacuzzi in the backyard or easily drive one of several speedboats or other boats tied to his private dock. To add to the list he counts a yacht and even private islands among his playthings.

His car collection is especially impressive. He owns 73 Mercedes-Benzs including one each of every model year going back decades. He is especially proud of 2011 SLS AMG gull wing, complete with the carbon fiber aero kit option and custom painted in the factory with an identical silver gray of the original Mercedes-Benz 300SL. His non-Mercedes collection includes a Roll Royce Phantom, and a red Ferrari Enzo among others. Despite his huge house, he doesn’t have enough space to park all his cars in the garage, so they are lined up along the road in front of his house, even parked in the field across from it. Some are put in Telesindo’s headquarter and a garage lot in Bandung. “I will put them all into my new 16-story office tower,” he says. With the Jakarta’s traffic jam he doesn’t ride them all one by one. He only uses a white Lexus for daily ride to work. He also enjoys motorbike riding. He own two Harley Davidsons and has been to visit the famous annual motorcycle gathering in Sturgis, South Dakota. He also has dozens of vintage Vespas in his bike collection.

He is also fond of collecting smaller items as well, such as golf balls, refrigerator magnets, ashtrays, model Mercedes Benz cars and especially anything in the form of a rooster, his Chinese astrological symbol. Many of them can be found in his office on the top floor of his headquarters, where he also has a mini golf course set up, complete with artificial grass.

* This story appears as the cover story on October 2011 issue of Forbes Indonesia magazine. All photos in this article made by Ahmad Zamroni/Forbes Indonesia.